Tanpa Judul 2

Setiap saat aku sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik, aku berusaha mewujudkan keinginanmu, tapi yang bisa aku lakukan memang hanya segini. Tapi setiap kali engkau bertemu dengan aku, selalu menanyakan hal yang sama ttg anak2 tentang orang-orang disana apa yang mesti aku jawab lagi. Yang ada perasaanku makin gelisah dan selalu dihantui rasa bersalah. Aku lagi lagi tidak cukup mengerti tentang semua proses kehidupanku ini, kenapa aku pernah berjalan disebelah kiri, terus kenapa harus bertindak begini dan begitu. Tapi setelah aku pahami aku tidak mengeluh lagi dengan tindakan-tindakan yang memang seharusnya aku lakukan itu. Hanya saja sampe saat ini yang menjadi ganjalan buat aku, engkau masih selalu mengawatirkan aku. Itu terlihat dari caramu memperlakukan aku, dan cerita-cerita masa lalu yang sering engkau ceritakan berulang-ulang. Kemudian hari ini, tepatnya siang ini engkau menceritakan kondisimu yang sudah merasa tidak sehat lagi. Itu menandakan seolah olah hidupmu tidak akan lama lagi dan mengharapkan aku untuk bisa segera menjadi manusia yang disebut dewasa. Ibarat anak burung, aku harus segera bisa terbang sendiri, menggunakan sayapku yang telah tumbuh sempurna yang sudah bisa digunakan untuk terbang jauh. Ditambah dengan segala teknik menghadapi segala keadaan dan kondisi dialam bebas belantara dunia ini. Itulah kekwatiran seorang orang tua terhadap anaknya. Orang tua pernah menjadi anak, sedang anak belum pernah menjadi orang tua. Kalimat ini yang dulu sering engkau ucapkan ketika anaknya tidak mendengarkan apa yang engkau ucapkan.

Sekali lagi aku hanya bisa menulis disini untuk mengungkapkan segala uneg-unegku, karena berucap dengan yang bersangkutanpun buat aku cukup susah, karena tidak mungkin aku akan meneteskan air mata didepan engkau. Aku disini mengatakan bahwa aku sudah cukup dewasa untuk menghadapi segala kondisi dan keadaan dialam jagat raya ini. Tidak perlu kwatir yang berlebihan, itu malah akan membuatmu tersiksa dan menambah rasa sakit atas penyakit yang engkau derita semakin terasa sakit. Sudahlah letakkanlah semua bebanmu. Saatnya aku sekarang yang mengangkat beban itu, walaupun aku seorang anak perempuan, dengan segala kekurangan dan kelebihanku aku pasti bisa. Selain itu segala sesuatu yang terjadi dibumi ini pasti sudah atas kehendak-Nya, sudahlah lepas semua beban pikiran itu dan percayalah bahwa Nya sudah mengatur semua makhluknya, pasrah saja, ikhlas saja, engkau sudah cukup umur tapi masih belum mencapai rasa pasrah dan ikhlas dengan baik. Tapi aku akan selalu berdoa buat engkau agar dilapangkan dada dan dibukakan pintu hatimu untuk bisa mencapai rasa pasrah dan ikhlas itu dengan baik, dan berdoa untuk diri sendiri agar yang engkau inginkan bisa aku wujudkan. Allah dengarkan doaku ini. Aku hanya tidak ingin merepotkan dan membebani pikiran orang tua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s