Akhirnya …

Malem ini seperti biasa keluar bersama teman biasa bersama, ya sekedar ngobrol mengenang masa kecil, tentang keluarga ya sedikit tentang pasangan banyak … eh salah ya adalah, yang jelas semua diambil baiknya saja, seperti biasa semua diambil hikmahnya saja… tidak perlu ada permusuhan atau pertengkaran, setiap manusia pasti ada kurang dan lebihnya, ada baik buruknya, jadi tidak perlu mencari kambing hitam, lebih baik mencari kambing putihnya saja hehehehe….

Disaat asyik-asyik ngobrol eh ni babeku ganggu aja sukanya, pertama sms “nitip dibeliin sate ayam sama lontongnya” aku iya…. mungkin keliatannya aku masih lama, eh dia langsung telepon, bilang minta diambilin duit di atm-nya, katanya lagi ga punya duit, dalam hati aku mana mungkin aku ngambilin duitnya diatm, itu sama dengan nyuruh aku pulang ya, kartu atm-nya kan bukan aku yang bawa…. ya dia sendiri yang bawa. Aku langsung jawab, ya deh ntar aja aku pinjemin, trus dia jawab ” o ya kalau gitu” telepon ditutup. Ngobrol lagi, setelah kurang lebih 15 menit, ditelepon lagi ngabari kalau kymco-nya dijual aja ke temennya yang mau pindah ke Bali, ya aku iya… telepon ditutup lagi. Lanjut lagi ngobrolnya, kurang lebih ya 20 menittanlah ditelepon lagi, kali ini dia mengabarkan kalau temennya yang mau ditawarin kymco ini mau kirim gambar, trus dia sudah kirim sms emailnya dan minta emailku, aku jawab lagi iya…. kembali telepon ditutup lagi. Kali ini tanda bunyi smsku yang berdering, aku langsung buka, kali ini info tentang hal yang sama tapi melalui sms, yang isinya nomor telepon temennya yang akan mengirim gambar, tujuan sms-sin nomor telepon ini agar aku mengirim email ke dia, ok pikirku. Baru sedang melakukan penyimpanan nomer telepon, eh sudah ditelepon menanyakan apakah aku sudah mengirim alamat emaiku atau belum, aku akhirnya hilang kesabaranku dengan nada yang agak tinggi aku jawab ” iya ini sedang akan menulis alamat email” kembali dia mengintruksi tentang titipannya, meyakinkan bahwa titipannya ini harus benar, aku kembali menjawab iya iya … begitu aku jawab itu, aku langsung liat dilayar hpku tertulis disconect, lega rasanya pikirku aku tidak lagi harus ditelepon atau disms, sampai-sampai aku merasa tidak enak dengan temenku ini. Tapi setelah dering telepon dan sms dari bapakku itu kita langsung menyelesaikan pembicaraan dan mengakhiri pertemuan hehehehe…. kayak apa aja, pake mengakhiri pertemuan. Benar kita berjalan ke kasir membayar dan membagi total belanja masing-masing dan beres. Segeralah masing-masing dari kita untuk kembali kerumah. Selama dalam perjalanan otakku berfikir kemana aku mencari titipan si orang tua ini, saat sambil berfikir mata ini lirak lirik kekana dan kekiri tapi aku lebih fokus untuk mencari yang sebelah kiri, biar mudah untuk mendapatinya, sambil mengatur laju kendaraan agar tidak kecepatan atau terlalu lambat hingga dapat mengganggu kendaraan yang berada dibelakangku. Tanpa sengaja aku melihat dagang sate ayam, tapi menyadarinya setelah sepeda motor ini melaju 8 meteran dari lokasi gerobak sate ayam itu, mau balik lagi ga mungkin karena ini jalan raya bay pass laju kendaraannya kenceng-kenceng, kalau mau balik repot juga pikirku. Ya sudah aku putuskan untuk mencari sate ayam ini didaerah Tuban, daerah ini memang terkenal banyak pilihan penjual makanan, mulai dari makanan kaki lima sampai restoran mahal, pembelinya sampai mengatre, mereka yang rata-rata datang menggunakan roda empat. Kemudian meluncurlah alat transportasiku ini menuju ke arah yang telah ditentukan oleh pikiran. Kurang lebih 20 menit, sampailah aku pada sebuah tikungan yang disitu dipinggir jalannya terdapat penjual martabak, tapi karena aku ga yakin ada penjual sate ayam disekitar situ aku kencangkan gas sepeda motorku, eh baru beberapa jalan aku dengan seksama melihat ada penjual sate, pertama yang aku lihat sate kambing kemudian aku liat ada sate ayam, eh langsung menepi dan berputar untuk balik arah sedikit saja, mungkin cuma 3 meteran. Akhirnya dapatlah sudah mencari sate ayam pesanan bapakku, aku langsung pesan 2 bungkus plus lontong dengan rasa yang pedas, begitulah tadi bunyi pesanannya.Kemudian bapak penjual sate langsung meracik dan seterusnya melakukan prosedur pembuatan sate yang seharusnya.

Nah saat menunggu si bapak tukang sate ini melakukan aktifitasnya, aku duduk dikursi yang telah disediakan. Saat aku duduk dan berada dilingkungan itu pikiranku tidak tenang, aku gelisah, perasaan campur aduk, mulai dari perasaan yang melow merasa iba melihat 2 anak perempuan kecil sedang bermain-main dengan asyiknya menunggui kedua orang tuanya sedang bekerja, si bapaknya sedang membakar daging ayam dan daging kambing pesananku dan pesanan orang sebelum aku datang, sedang ibunya mengambil air 2 ember untuk mencuci piring bekas dipakai daru para customer-nya, duh trenyuh banget aku melihatnya, padahal belum tentu keluarga ini merasa tidak nyaman dengan keadaannya atau belum tentu aku lebih baik atau lebih nyaman dari orang-orang dalam keluarga penjual sate kambing dan sate ayam ini. Aku iba ataupun berperasaan trenyuh ini karena aku sangat menghargai keberadaannya, keadaannya, aku merasa belum ada apa-apanya dibanding mereka, jika aku dihadapkan keadaan seperti itu, pasti aku belum tentu sanggup untuk menjalaninya, padahal mereka bisa menjalaninya dengan ikhlas, ikhlas atau enggaknya mereka aku tidak tau secara pasti karena aku tidak tanya langsung kepada mereka, ini hanya dari penglihatan mataku saja. Fuih …. emmm…. aku hanya bisa menghela nafas… Tuhan itu memang Maha Adil lagi Bijaksana, menciptakan segala sesuatunya itu memang ada manfaat dan tujuannya. Sungguh hidup itu luar biasa ga enaknya dan luar biasa enaknya, emmm…. tinggal pilih hehehe….

Selain perasaan yang melow dan iba diatas, satu sisi pikiranku berfikir tentang hal buruknya, karena daerah dagang sate ayam ini orang-orangnya dari berbagai macam orang, aku merasa tidak aman. Pengalaman pribadi dijambret dengan ciri-cirinya laki-laki betisnya warna hitam dan menurutku sudah bisa dipastikan kalau mukanya juga pasti jelek karena punya hati juga jelek hehhehehe…. padahal aku tidak tau persis mukanya kayak gimna, yang jelas saat berada dilingkungan dagang sate ini langsung terlintas jangan-jangan si penjambretku itu tinggal atau mencari makanannya juga didaerah sini, bukannya penjambret juga manusia, yang doyan juga tho makan sate, eh kok makan sate, makan kodok mentah juga pasti doyan, lawong dia kan seperti singa atau macan, asala ada santapan entah bersih atau kotor entah halal atau haram, pasti dicaplok hehehe…. wuih aku menjadi teringat akan peristiwa itu, mau dibilang ikhlas sih bisa saja tapi trauma setelah kejadian itu lho yang bikin huh sampe sekarang masih belum hilang dari ingatan. Nah atas dasar pengalaman pahit itulah pikiran negatif  akan daerah si penjual sate muncul semua, yang tadinya trenyuh dan iba, menjadi waspada, jangan2, jangan2…. emmmm…. karena otakku ini memikirkan itu semua, mungkin si penjual sate atau customer laennya ikut merasakan hawa ketidakkaruanku itu, karena terbukti orang-orang tersebut melihat aku dengan tatapan penuh tanya, walah ga tau deh penuh tanya atau penuh curiga juga hehehe…. yang jelas pikiran dan perasaan saat itu tidak nyaman  buat aku. Begitu semua selesai, aku langsung tancap gas dan pergi jauh-jauh deh dari daerah itu, dan akhirnya sampe rumah dengan selamat. Aku serahkan titipan itu kepada yang menitip dah hasilnya lumayan tidak mengecewakan. Alhamdulillah akhirnya aku bisa juga melakukan kebaktian terhadap orang tua🙂 . Tetep semua itu buat aku ada hikmahnya. Semoga aku tetep terjaga menjadi manusia yang sadar akan adanya hikmah dalam setiap peristiwa dan kejadian. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s