Penilaian Yang Salah

Tapi sekali lagi, Allah itu memang benar-benar adil dan bijaksana, aku percaya saja dengan apapun yang terjadi pasti sudah atas seijinnya, baik yang terjadi itu baik atopun buruk. Seperti kejadian di pagi ini, aku mulai terjadi konfilk lagi dengan bpakku, awalnya dia tidak berkata apa-apa, karen milihat aku lewat, entah apa yang dipikirnya, dia langsung menceritakan keberhasilan teman beserta anak2nya yang dia bilang bagus, lamat-lamat aku mendengarnya dengan jelas perihal apa-apa isi yang dia ucapkan itu, karena jarak antara dia dan aku cukup jauh dan terhalang oleh tembok. Begitu aku mendengar pembicaraan dia dengan tema seperti itu, langsung dalam otakku merespon kalau dia ini menyindir anak2nya tepat aku, karena yang jelas terlihat posisi sebagai anak ya hanya aku didalam rumah ini, bahwa dia menginginkan agar seperti itu. Karena aku tidak terlibat langsung, ya aku hanya bisa diam saja, tapi jujur dalam hati kecilku berdoa ” Jika Engkau beri rezeki yang berlebih, aku akan hidup sederhana dengan penuh makna dan bermafaat, sisanya aku akan berikan kepada orang-orang yang sangat memerlukan, bahkan aku akan dirikan sebuah wadah pendidikan untuk mendidik masyarakat untuk menjadi pintar, tidak hanya pintar mencari materi tapi pintar dalam berfikir menghadapi hidup dengan cerdas dan bijaksana yang berpedoman ” menjadi manusia yang memanusiakan manusia ” karena di negeri ini buanyak sekali masyarakat yang tidak bisa bersikap dan bertindak selayaknya manusia yang bisa memanusiakan manusia laennya. Mereka lebih mengutamakan mengurusi isi perut masing-masing. Asal aku kenyang terserah orang laen kenyang juga atau masih lapar. Gambaran kasarnya yang bisa aku tangkap seperti itu. Sebagai contoh ternyata Bapakku mendidik aku seperti itu. Sedang hati nurani terdalam dan darah yang mengalir dalam tubuhku tidak seperti itu. Sangat-sangat bertentangan, aku selalu bertanya-tanya kenapa Bapak seperti itu… ? kenapa aku punya bapak seperti itu … ? untuk aku masih memiliki seorang ibu yang mempunyai darah tidak seperti bapakku, dan alhamdulillah lagi… Allah ternyata masih selalu sayang terhadapku, dalam keadaan bagaimanapun juga, ternyata aku masih dibukakan pintu kesadaran dalam berfikir yang rasional hehehehehe… jadi masih bisa melanjutkan langkah-langkah ke depan dengn optimis dan lebih bijak. Nah disaat bpkku berbicara terus ternyata dia nyeletuk menanyakan aku, mencoba ingin tau apa reaksiku mungkin, dalam hati wah ini kesemptan aku untuk nunjukkan diri bahwa aku tidak suka dengan apa yang dia bicarakan itu, langsung aku jawab ngena dan ketus. Seperti biasa dia mengabaikan jawabanku, tapi minimal dia ngerti kalau aku tidak suka dengan obrolannya. Nah ternyata ada kesempatan kedua untuk aku melancarkan serangan balik, eit ini kok jadi kayak perang, tapi ini bukan perang, ini bukti bahwa kuasa Allah ternyata doa orang teraniaya *teraniaya itu kan tidak hanya secara fisik, bathin juga kan * dikabulkan, tiba-tiba dia teringat dompetnya, dia cari ditempat yang salah, ya jelas saja ga ada karena dia lupa, karena ga ada dia panik dan bingung trus panggil-panggil aku, aku langsung diam sejenak, tetep berfikir realitis, dalam hati sampe dompetnya ini ketemu saat ini juga, dan dompetnya tidak hilang, aku akan serang balik, eh bener, istrinya yang menemukan, “lha ini dompetnya ” emmm…. langsung tanpa ba bi bu, serang….. keluarlah semua uneg-unegku, mungkin ini memang sudah jalannya kali, keluar semua uneg-uneg, puas sekaligus membuat dia berfikir, bahwa alasan kenapa semua anak-anaknya susah bersikap baik terhadapnya, minimal bekal dia kalau sendirian lagi merenung😀 . Tapi setelah ini semua terjadi, aku sangat-sangat sadar atas sikap dan tindakanku. Tidak sepatutnya aku bersikap seperti itu, tapi itu tadi benar-benar tidak bisa aku tahan, jadi meledaklah semuanya, itupun juga pengaruh karena didikkannya dia kan. Sekali lagi maaffin anakmu ini ya pak….🙂 makanya karena ga bisa bilagn secara langsung, aku tulis saja disini, mungkin Allah malah bisa membacanya lansung heheheehe….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s