Catatan dan Kisah-kisah bagus dari Teman dan saudara seIman

by Alip Dewi on Tuesday, October 5, 2010 at 10:02am

Some note from my sister :
Assalamualaikum kawan dan saudara yang di rahmati Allah.Saya mendapati seorang teman yang selalu sharing hal-hal bermanfaat dan berguna. Karena menurut saya bagus buat saya sebagai salah satu obat penenang🙂, oleh karena itu saya mau share yang teman saya itu share dengan kami.(kata2ku kok bingungne yo)

Catatan dan kisah-kisah berikut ini, dari berbagai penulis….yang jelas bukan dari saya…:) tapi bagus sekali, menurut sya🙂

Resah Dan Gelisah

Oleh K Suheimi

Pengajian saya subuh ini di masjid An Nur berjudul Resah Dan GelisahKenapa kita Resah Dan Gelisah?. Salah satu sebabnya bila ada janji yang tak kita penuhui. Kita akan selalu ingat akan janji itu. Alam bawah sadar akan selalu menuntut agar janji itu dipenuhui. Selama janji itu belum di penuhui maka jiwa itu akan selalu menuntut, hinga kita tak tenang, tidur tak lelap, makan tak enak karena janji.

Dulu ketika bertemu sperma dan ovum, ketika roh akan di tiupkan kepada Roh ini Allah minta kesaksian dan perjanjian. “Alastu birabbikum?” Bukankan Aku TuhanMu yang menciptakanmu? . “Masing2 Roh itu menjawab “Bala sahidna” benar ya Allah aku menyaksikannya.

Ini membantah anggapan bahwa ada yang berkata “saya tak berhendak lahir ke dunia” kalau kita lihat dalam proses kejadian. Ratusan folokel premordial dan 250 juta sperma berlomba memperebutkan utk bisa jadi manusia. Makanya Allah memberikan syarat. Dan kita berjanji memenhui syarat yang diberikan Allah, hingga kita gelisah ketika janji itu tak terpenuhi.

Ketika meninggal di bacakan “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun” dalam kalimat “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun” tersimpul dua pengertian . Allah adalah asal, sekali gus Allah adalah tujuan, dari Nya kita datang, kepadaNya kelak kita kan kembali. Sesungguhnya UntukNyalah segala persembahan dan pengabdian ini.

Maka ketika manusia menyimpang dari dari garis yang telah ditetapkan Allah. Dan ketika manusia tak berjalan pada koridor ke Redhaannya, maka manusia itu akan resah dan gelisah karena dia mengingkari janji yang pernah di lafazkannya, tapi tak berhasil memenuhinya.

Makanya manusia, dimanapun berada suka tidak suka selalu berusaha mencari Tuhannya. Kalau tidak maka manusia itu akan resah dan gelisah.

Saya tanya jemaah subuh di masjid An Nur yang kebetulan pagi ini turun hujan, jawabnya memenuhui panggilan ilahi, semoga kami yang telah terbiasa memenuhui panggilan Ilahi ini, kelak tak canggung ketika datang panggilannya yang terakhir. Kemudian menjalin tali silaturrahim dengan sesama jemaah. Betul tanpa disadarinya semua mencari Allah yang Ar Rahim itu.

Makanya dalam hidupmanusia itu ingin menemui Allah menunaikan janji yang pernah di lafazkannya.

Ketika manusia bisa menunaikan dan memenuhui janji yang di lafazkannya, ketika itulah dirasakannya. Hati yang penuh kedamaian, fikiran yang penuh ketentraman dan perasaan yang penuh ketenangan. Dan itulah kebahagiaan.

Pesan rasul “Irhammu. Fil ardh yarhamkum fissamak”

Kasihani yg di bumi maka yg dilangit akan mengasihimu”Rasakanlah nikmatnya dalam memberi dan meringankan beban orang lain.Kebahagian itu dikaitkan dengan kemampuan kita membahagiakan orang lain.

Pesan Rasul ” mudahkanlah kamu akan dimudahkan, Lapangkanlah kamu akan di lapangkan

Bila anjuran yg diatas di amalkan, kita akan mendapatkan kesehatan jasmani dan Rohani, lahir dan bathin

Masjia An Nur 16 Juli 2010

Powered by Telkomsel BlackBerry®

M A A G D A N P U A S A

Oleh : Dr.H.K.Suheimi

Maag saya kambuh kata pasien saya mengeluh sambil memegang perut dan mengusap peluhnya. Mampukah saya berpuasa? Ulasnya lagi. Lalu saya buka lembaran-lembaran pelajaran tentang penyakit Maag. Penyakit Maag kambuh oleh karena meningkatnya produksi asam lambung. Asam lambung banyaak tercurah disebabkan oleh fikiran, emossi dan stress. Pendapat ini di buktikan oleh Pavlov dengan percobaannya yang terkenal yaitu anjing pavlov. Pavlov setiap kali memberi makan anjing dia membunyikan lonceng, setiap kali lonceng berbunyi sang anjing tahu bahwa dia akan dapat dapat makanan. Pada atu kali lonceng saja yang di bunyikan, tapi makanan tak di beri. Lau di periksa, ternyata aair liur anjing itu meleleh, dan lambungnyapun dibanjiri oleh cairan yang asam. Ini jelas membuktikan bahwa produksi asam lambung berkaitan dengan otaknya. Pada hari biasa jam 7 pagi asaam lambung ini meningkat karena terbiasas dia dapat sarapan. Jam 10 pagi asam lambung ini banyak lagi karena dia akan dapat snack. Jam 13.00 asam lambung banjir kembali karena akan makan siang. Jam 16.00 kembali lambung diguyur asam, karena snack akan datang. Jam 20.00 asam lambung meningkat lagi karena makan malam. Sebelum tidur sambil nonton TV asam lambung banyak lagi karena lagi ngemil, mengunyah makanan ringan. Tambahan lagi dihari biasa beban fikiran dan stress aagak sukar mengatasinya. Nafsu amarah dan Nafsu Lawwamah mudah muncul kepermukaan. Emosi jadi lebih tinggi. Hal kecil bisa jadi masalah, dan setiap masalah sering produksi asam lambungnya meningkat. Terungkap dari kata sehari-hari “Marumeh paruik melihat perangainya”. Ada-ada saja yang akan membuat “Paruk marumeh”. Soal dollar naiklah, soal PHK, soal harga membubung tinggi, dan soal rumah tangga. Maka manusia dihadapkan pada tinginya resiko menderita sakit maag. Lalu Ramdhan datang. Setiap kedatangan Ramadhan saya teringat pesan Rasul. Berpuasalah agar kamu sehat”. Di bulan Ramadhan orang akan merasa dan menjadi sehat. Nabi Muhammad di bulan Ramadhan berada dalam kesegaran dan kebugaran yang luar biasa. Sehingga banyak peristiwa besar justru terjadinya di bulan Ramadhan. Beliau diangkat dan di nobatkan jadi Rasul di Bulaan Ramadhan. Al-Qur’an di turunkan di bulan Ramadhan. Perang Badar yang terkenal dan di menangkan oleh Rasul, walaupun dengan tentara yang sedikit dapat mengalahkan lawan yang banyak, terjadi dalam bulan Ramadhan. Takluknya kembali kota Mekah juga dalam bulan Ramadhan. Dan Nenek kita dulu merebut kemerdekaan juga dalam bulan Ramadhan. Artinya di bulan Ramadhan manusia dapt mengerjakan hal-hal besar, karena di bulan itu menusia mencapai puncak kesehatannya. Di Bulan Ramadhan asam lambung sangat sedikit di produksi. Ketika makan sahur, manusia bara terbangunatau di bangunkan dari lelap tidurnya, belum sempat asam lambung berproduksi dia sudagh makan. Asam lambung baru di produksi ketika akan berbuka, namun sebelum berbuka mereka asyik pula mendengarkan alunan ayat-ayat Qur’an atau asyik menyimak pengajian meanti saat-saat berbuka. Artinya selama bulan Ramadhan, asam lambung sedikit sekali di hasilkan, dan lambung dapat istihat yang lama, lepas dari beban-dan beban, sehingga lambung punya kesemptan melakukan regenerasi dari jaribgan dan mukosanya yang rusak. Dan ini sangat di butuhkan untuk kesembuhan penyakit maag. Tambahan lagi nafsu amarah dan nafsu lawwamah yang sering menyebabkan peningkatan asam lambung. Mmaka kedua nafsu itu di bulan Ramadhan di tekan dan di kendalaikan serta di robah menjadi nafsu Mutmainnah. Etiap kali dia akan marah, dari lidah orang berpuasa ini terucap kata-kata “Anna Syaim” saya sedang berpuasa. Kata ini merupakan rem yang pakam membendung emosi dan melenyapkan stress. Berganti dengan Nafsu Mutmainnah, jiwa yang tentram. Pada manusia berpuasa ini akan melahirkan; Hati yang penuh kedamaian, Fikiran yang penuh ketentraman dan peasaan yang penuh ketenangan. Bukankah untuk sehat jasmanai dan rohani yang kita kenal dengan ungkapan sehat wal afiat, dibutuhkan hati yang damai, fikiran yang tentram dan perasaan yang tenang? Maka di penghujung kehidupan Nafsu mutmainnah ini di panggil dengan panggilan kesayangan, sebagi Firman Suci_Nya dalam A;l-Qur’an; Hai jiwa yang tenang. (QS. 89:27)

—-السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Satu tulisan yang bagus dikirim Irham

RENUNGAN UNTUK TIDAK MENAMBAHKAN DOSA

Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya, “Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?”.Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata, “Tidak, nak”.Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi,”Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya.”Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?”Ayahnya tertawa, “Mungkin tidak bisa juga, nak”.”OK ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja?”.Akhirnya ayahnya mengangguk,”Kemungkinan besar, bisa nak “.Anak ini tersenyum lega.”Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah.Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar….”

Pernyataan ini mengandung kebenaran sejati.Marilah kita hidup dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan cara kita menjalani hidup ini.Dari latihan yang paling kecil dan sederhana sekalipun, akan menjadikan kita terbiasa, dan apa yang sudah biasa kita lakukan akan menjadi sifat,dan sifat akan berubah jadi karakter,dan karakter akan menjadi destiny…..

Hiduplah 1 jam TANPAtanpa kemarahan,tanpa hati yang jahat,tanpa pikiran negatif,tanpa menjelekkan orang,tanpa keserakahan,tanpa pemborosan,tanpa kesombongan,tanpa kebohongan,tanpa kepalsuan…

Lalu ulangi lagi untuk 1 jam berikutnya.. .Hiduplah 1 jam DENGANdengan kasih,dengan sukacita,dengan damai sejahtera,dengan kesabaran,dengan kelemah lembutan,dengan kemurahan hati,dengan kerendahan hati.

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Monyet

Ada cerita seekor monyet sedang nangkring di pucuk pohon kelapa. Dia nggak sadar lagi diintip sama tiga angin gede, yaitu

– Angin Topan,

– Tornado dan

– Bahorok.

Tiga angin itu rupanya pada ngomongin, siapa yang bisa paling cepet jatuhin si monyet dari pohon kelapa.

Angin Topan bilang, dia cuma perlu waktu 45 detik.

Angin Tornado nggak mau kalah, 30 detik.

Angin Bahorok senyum ngeledek, 15 detik juga jatuh tuh monyet.

Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju. Angin TOPAN duluan, dia tiup sekenceng-kencengnya, Wuuusss… Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung megang batang pohon kelapa. Dia pegang sekuat-kuatnya. Beberapa menit lewat, nggak jatuh-jatuh tuh monyet. Angin Topan pun nyerah.

Giliran Angin TORNADO. Wuuusss… Wuuusss…

Dia tiup sekenceng-kencengnya. Ngga jatuh juga tuh monyet. Angin Tornado nyerah.

Terakhir, Angin BAHOROK. Lebih kenceng lagi dia tiup. Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin kenceng pegangannya. Nggak jatuh-jatuh. Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin, si monyet memang jagoan. Tangguh. Daya tahannya luar biasa.

Ngga lama, datang angin Sepoi-Sepoi. Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Diketawain sama tiga angin itu. Yang gede aja nggak bisa, apalagi yang kecil.

Nggak banyak omong, Angin SEPOI-SEPOI langsung niup ubun-ubun si monyet. Psssss… Enak banget. Adem… Seger… Riyep-riyep matanya si monyet. Nggak lama ketiduran dia. Lepas pegangannya. Jatuh deh tuh si monyet.

Sahabat, dari Kisah diatas hikmah yang bisa kita ambil adalah:

Boleh jadi ketika kita Diuji dengan KESUSAHAN… Dicoba dengan Penderitaan… Didera Malapetaka… Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya…

Tapi jika kita diuji dengan KENIKMATAN… KESENANGAN… KELIMPAHAN… Biasanya kita mudah terlena dan terlupa, makanya sahabat janganlah sampai kita terlena… Tetap rendah hati dan mawas diri serta byk berbuat kasih terhadap sesama, ingat semua hanya titipan atau amanah Sang Pencipta O:)

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

FYI, semoga bermanfaat.

ada yang mau minta beliin cermin nih kayaknya…

—–Tatkala kudatangi sebuah CERMIN,

Tampaklah sosok yang sudah sangat lama kukenaldan sangat sering kulihat.Namun aneh…Sesungguhnya aku BELUM MENGENAL siapa yang kulihat.

Tatkala kutatap WAJAH, hatiku bertanya :Apakah wajah ini yang kelak akan bercahayaDan bersinar indah di Surga sana?Ataukah wajah ini yang hangus legam di Neraka Jahanam?

Tatkala kumenatap MATA, nanar hatiku bertanya :Mata inikah yang akan menatap Allah..Menatap Rasulullah, dan Kekasih-kekasih Allah kelak?Ataukah mata ini yang terbeliak, melotot, terburai menatap neraka jahanam?Akankah mata penuh maksiat ini akan menyelamatkan?Wahai mata , apa gerangan yang kau tatap selama ini?

Tatkala kutatap MULUT..Apakah mulut ini yang kelak mendesah penuh kerinduanMengucap LAA ILAAHA ILLALLAAH saat malaikat maut menjemput?Ataukah menjadi mulut yang menganga dengan lidah menjulur,dengan lengkingan jerit pilu …yang mencopot sendi-sendi setiap yang mendengar?Ataukah mulut ini jadi pemakan buah zaqun jahanam yang getir,penghangus dan penghancur setiap usus?

‎Apakah gerangan yang engkau ucapkanWahai mulut yang malang?Berapa banyak dusta yang engkau ucapkan?Berapa banyak hati yang remuk …Dengan sayatan pisau kata-katamu yang mengiris tajam?Berapa banyak kata-kata semanis madu…Yang palsu yang engkau ucapkan untuk menipu?Berapa sering engkau berkata jujur?Berapa langkanya engkau dengan syahdumemohon agar Allah mengampunimu?

Tatkala kutatap TUBUHku, apakah tubuh ini…Yang kelak menyala penuh cahaya bersinar…Bersuka cita dan bercengkrama disurga?Ataukah tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih…Dalam lahar neraka jahanam,Terpasung tanpa ampun,Menderita yang tak akan pernah berakhir?Aku malu Ya Allah…Ya Allah… selamatkan dan ampuni aku …

Amin…Ya Rabbil ‘alamin

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Segenggam Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, ia didatangi seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan wajahnya kusam. Keadaan tubuhnya tak karuan. Ia seperti sedang menghadapi sebuah masalah yang sangat menyusahkan hatinya. Begitu bertemu dengan si orang tua yang bijak, ia segera menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi.

Pak Tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. Begitu tamunya selesai bertutur, ia lalu mengambil segenggam garam dan memintanya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya,” ujar Pak Tua itu.

“Pahit…., pahit sekali,” jawab anak muda itu sambil meludah ke samping.

Pak Tua tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya berjalan-jalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua orang itu berjalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan. Setelah melakukan perjalanan cukup lama, akhirnya mereka tiba di tepi sebuah telaga yang tenang. Pak Tua itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, ia mengaduk air telaga sehingga sebagian airnya terciprat membasahi wajah anak muda itu.

“Sekarang, coba ambil air dari telaga ini dan minumlah!” ujar Pak Tua kemudian.

Anak muda itu menuruti apa yang diminta Pak Tua. Ia segera meminum beberapa teguk air telaga. Begitu tamunya selesai mereguk air, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”

“Segar!” sahut anak muda itu.

“Apakah engkau bisa merasakan garam di dalam air itu?” tanya Pak Tua lagi.

“Tidak,” jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. Lalu ia mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.

“Anak muda, dengarkanlah ucapanku. Pahitnya kehidupan yang engkau rasakan seperti segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu tergantung dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi ketika engkau merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa engkau lakukan untuk mengatasinya. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskan hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu kembali menambahkan nasihatnya, “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Qalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan. “ Keduanya beranjak meninggalkan tepian telaga. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan segenggam garam untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya untuk meminta nasihat.

(diambil dari Sabili No.24 Th.IX)

Bosan Hidup

Seorang pria setengah baya mendatangi seorang guru ngaji, “Ustad, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.”

Sang Ustad pun tersenyum, “Oh, kamu sakit.”

“Tidak Ustad, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Ustad meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga,bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” demikian ujar sang Ustad.

“Tidak Ustad, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran sang Ustad.

“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?”

“Ya, memang saya sudah bosan hidup.”

“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”

Giliran dia menjadi bingung. Setiap Ustad yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Ustad edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran masakan Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, “Mas, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas.”

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?”

Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami semua.”

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?

” Ya Allah, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu ya Allah. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia ini ”.

Ia pun buru-buru mendatangi sang Ustad yang telah memberi racun kepadanya. Sesampainya dirumah ustad tersebut, pria itu langsung mengatakan bahwa ia akan membatalkan kematiannya. Karena ia takut sekali jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat dia menjadi hidup kembali.

Melihat wajah pria itu, rupanya sang Ustad langsung mengetahui apa yang telah terjadi, sang ustad pun berkata “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.”

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Ustad, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Ah, indahnya dunia ini……

Ditulis oleh sigit setiawan

Mudah-mudahan bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s